Surga Bawah Laut Sulawesi yang Mungkin Belum Kamu Tahu

Surga Bawah Laut Sulawesi yang Belum Kamu Tahu
Foto: (Abdy Febriady/Istimewa Pengelola)

Polewali – Dunia bawah laut Indonesia sungguh kaya dan penuh pesona. Satu yang tak kalah cantik dan belum tersentuh adalah Gonda Mangrove Park di Sulawesi Barat.

Kabupaten Polewali Mandar, memiliki segudang potensi wisata alam yang sayang untuk dilewatkan. Salah satunya kawasan wisata Gonda Mangrove Park (GMP), di Dusun Gonda, Desa Laliko, Kecamatan Campalagian.

Berjarak sekitar 15 Kilometer dari Kecamatan Wonomulyo yang menjadi Pusat Perdagangan Kabupaten Polewali Mandar, dengan waktu tempuh sekitar 15 menit saja, kawasan wisata GMP seluas lebih kurang 20 hektar ini menawarkan wisata edukasi hutan mangrove dan keindahan bawah lautnya.

Tercatat, ada sedikitnya 17 jenis mangrove yang tumbuh di tempat ini, serta 124 jenis ikan yang mudah dijumpai pada kedalaman beberapa meter saja. Kawasan wisata Gonda Mangrove Park juga diberkahi keindahan terumbu karang, yang memanjakan mata.

Untuk menikmati keindahan bawah lautnya, pengunjung cukup merogoh kocek senilai Rp 20 ribu rupiah saja, untuk menyewa satu set perlengkapan snorkeling, lengkap dengan sebuah perahu tradisional berukuran kecil.

Bagi pengunjung yang belum biasa bersnorkeling jangan khawatir, karena tempat wisata ini memiliki pemandu, yang selalu siap menjadi struktur dan mendampingi para pengunjung untuk menikmati keindahan bawah laut.

Jika masih merasa ragu, pengunjung bisa menikmati indahnya laut biru di kawasan wisata ini, dengan duduk di atas gazebo mini yang dibangun di mangrove sambil menikmati tiupan angin sepoi, atau sekedar berfoto pada beberapa spot kekinian yang disiapkan oleh pengelola, sebagai bukti telah berkunjung ke tempat ini.

“Pemandangan bawah lautnya keren, terumbu karangnya juga masih terawat dengan baik, ikan-ikannya juga masih banyak,” puji salah seorang pengunjung Andy.

Menurut pengelola, kawasan wisata GMP ramai pengunjung pada bulan November hingga Mei. Hal tersebut dikarenakan, arus bawah laut lebih tenang sehingga pengunjung dapat leluasa bersnorkling sambil menikmati keindahan warna warni terumbu karang dan ratusan jenis ikan yang bermain di sekitarnya.

Keberadaan kawasan wisata Gonda Mangrove Park ini, berawal dari upaya sekelompok pemuda di daerah ini, yang tergabung dalam komunitas Sahabat Pesisir, untuk melakukan konservasi dan rehabilitasi lingkungan, karena terjadinya perubahan lingkungan khususnya daerah mangrove dan terumbu karang.

“Dulu marak nelayan dari luar menangkap ikan dengan melakukan pengeboman, dari situ kita mengupayakan agar bisa dikurangi dan dihilangkan, akhirnya pada tahun 2010, kita berhasil, nelayan juga mulai sadar akan pentingnya menjaga lingkungan yang akhirnya ikut melarang dilakukannya pengeboman ikan,” ungkap Ketua Sahabat Pesisir Ashari Sarmedi, kepada wartawan.

Sumber:https://travel.detik.com/domestic-destination/d-4783935/surga-bawah-laut-sulawesi-yang-mungkin-belum-kamu-tahu?_ga=2.193184047.360589604.1579159589-1685422183.1579159589

4 Wisata Alam Puncak di Ciamis yang Asyik untuk Liburan Tahun Baru

(Foto: Istimewa) Empat Rekomendasi wisata puncak untuk libur tahun baru di Ciamis.
(Foto: Istimewa) Empat Rekomendasi wisata puncak untuk libur tahun baru di Ciamis.

Ciamis – Kekayaan alam Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, cukup melimpah. Banyak lokasi asyik untuk wisata dengan panorama alam indah. Terutama bagi para pecinta ketinggian dan kemping. Berikut detikcom merangkum beberapa lokasi puncak di Ciamis yang asyik untuk liburan tahun baru.

Puncak Puspa di Gunung Sawal

Wisata Puncak Puspa mulai dikenal beberapa tahun ini sebagai tempat kemping. Letaknya berada di Dusun Pasireurih, Desa Medanglayang, Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis. Puncak Bangku memiliki ketinggian 1.004 mdpl merupakan bagian dari Gunung Sawal.

Puncak Puspa menyuguhkan pemandangan alam yang indah di siang hari. Pada malam hari pun tak kalah indah dengan menyuguhkan pemandangan hamparan cahaya perkotaan seperti bintang. Pada pagi harinya, bila beruntung traveler bisa menyaksikan fenomena awan bak negeri di atas awan. Hanya saja tak setiap pagi terjadi, tergantung cuaca disekitar.

Anggota Pengelola Puncak Puspa, Cucu Suyaman menjelaskan rute menuju lokasi, dari jalan Raya Panumbangan-Panjalu, belok dari pangkalan ojek Batu Pamijahan. Lokasinya lebih dekat dari Tasikmalaya. Bila dari perkotaan Ciamis jaraknya sekitar satu jam perjalanan.

Kendaraan diparkir di pintu masuk pos pendaftaran. Tiket masuknya Rp 7 ribu per orang. Bagi yang akan kemping harus membayar tiket tambahan sebesar Rp25 ribu. Fasilitas di atas puncak cukup lengkap, mulai dari toilet hingga mushala. Juga lokasi kemping sudah dipersiapkan.

Dari parkiran, wisatawan harus berjalan 1,5 kilometer menuju puncak. Meski cukup menanjak, namun sudah memiliki rute dan tertata dengan baik. Sepanjang perjalanan akan disuguhkan pemandangan hutan yang indah. Sehingga rasa lelah nyaris tak terasa.

“Sebetulnya sepeda motor bisa naik ke atas, tapi untuk seorang saja. Kecuali pakai motor trail. Alhamdulillah setiap sabtu-minggu selalu ramai. Sekarang musim libur akhir tahun lumayan ramai. Wisatawan dari Bandung, Tangerang, Karawang juga kesini,” ucapnya, Senin (30/12/2019).

Puncak Bangku ‘Negeri di Atas Awan’ yang Viral di Ciamis

Destinasi wisata berjuluk ‘Negeri di Atas Awan’ begitu diminati wisatawan zaman now. Nah, yang lagi viral kali ini adalah Puncak Bangku dari Ciamis. Cocok untuk liburan akhir tahun. Cocok juga untuk kemping akhir pekan.

Menikmati keindahan panorama awan tak selalu harus naik atau mendaki gunung. Di Desa Situmandala, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Fenomena bak Negeri di Atas Awan ternyata bisa dinikmati dari perkampungan dan kini dibuat jadi tempat wisata Puncak Bangku.

Beberapa minggu ini fenomena tersebut sedang hits, banyak diperbincangkan di media sosial Instagram. Banyak akun medsos yang mengunggah keindahan panorama di Puncak Bangku Ciamis tersebut. Sehingga lokasi tersebut kini semakin ramai dikunjungi hingga sekarang.

Bagi traveler yang ingin melihat fenomena ‘Negeri di Atas Awan’ dari Puncak Bangku ini harus datang pagi-pagi sekitar pukul 05.00 WIB. Karena fenomena ini merupakan kabut tebal yang menyelimuti hutan dan perkampungan di bawahnya. Pada pukul 08.00 WIB kabut tersebut sedikit demi sedikit menghilang.

Untuk menuju lokasi tersebut bila dari pusat Ciamis perkotaan membutuhkan waktu tempuh sekitar 40 menit, menggunakan kendaraan dengan kecepatan standar 40-50 km/jam.

Baca juga:15 Polisi Nakal di Jabar Dipecat Selama 2019

Rutenya dari Alun-alun Ciamis ke arah Baregbeg, lalu belok ke Sukadana kemudian ke Kecamatan Rancah. Dari pertigaan Polsek Rancah ambil jalur lurus dan ikuti petunjuk menuju Puncak Bangku. Kendaraan di parkir di dekat lokasi. Tak ada tiket masuk, hanya ongkos parkir untuk petugas yang jaga.

Puncak Bangku ini ada di dataran tinggi yang memiliki tebing. Sedangkan daerah yang diselimuti kabut adalah wilayah perbatasan Ciamis-Kuningan. Dari kejauhan terlihat puncak-puncak bukit yang hijau. Udara di lokasi cukup sejuk, cocok untuk menikmati segelas kopi atau susu hangat sambil menikmati pemandangan.

Setelah ramai dikenal di media sosial, pengunjung yang datang tak hanya dari penduduk lokal tapi juga dari luar daerah Ciamis. Aji Nursamsi, mahasiswa asal Kabupaten Pangandaran ini penasaran datang ke Puncak Bangku untuk menyaksikan fenomena ‘Negeri di Atas Awan’. Bahkan ia rela menginap di rumah temannya di sekitar Rancah.

Sumber:https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-4839818/4-wisata-alam-puncak-di-ciamis-yang-asyik-untuk-liburan-tahun-baru/2

Di Resto Ini Bisa Kulineran Sambil Jalan-jalan Pakai Skuter Listrik

Foto: Dok. Instagram/Grab
Foto: Dok. Instagram/Grab

 Kini area kuliner tak hanya menyediakan berbagai menu pilihan makanan dan minuman favorit, tetapi juga menawarkan berbagai atraksi atau wahana. Pasalnya fasilitas ini dibutuhkan seiring berubahnya pola kebiasaan masyarakat.

Tak hanya sekadar makan sebagai kebutuhan pokok, masyarakat juga kini sering berlama-lama seperti nongkrong atau bermain-main saat berada di tempat kuliner. Makanya Sugianti (47), pemilik Geprek Bandung, begitu antusias saat tempat kulinernya ditawari jadi salah satu spot GrabWheels. Jadi restonya tidak hanya sebatas menyediakan makanan, namun juga skuter listrik.

“Ceritanya, disamperin team GrabWheels, nawarin restonya jadi spot GrabWheels. Langsunglah disambut. Banyak yang antre mau pakai, terus pesan makan. Restoran jadi semakin ramai dan menguntungkan,” ujarnya seperti dilansir Instagram Grab, Sabtu (28/12/2019).

Ceritanya nama awal restonya ialah Saung Bandung dan hanya buka di warung kaki lima. Sejak ada artis datang dan makan di sana, warungnya mulai diangkat sebuah tabloid. Dari sana dia semakin percaya diri melanjutkan usahanya dan bisa menjadi seperti sekarang.

Geprek Bandung pun kini sudah jadi menu favorit dan sering dipesan melalui aplikasi GrabFood. Ditambah dengan jadi spot GrabWheels, restonya menghasilkan cuan yang lumayan.

“Perubahan yang terasa, sebelum dan sesudah bareng GrabFood adalah sekarang nggak lagi menolak pesanan sedikit, tapi pengantarannya jauh. Juga bisa mengikuti pasar,” ungkapnya.

Sejak adanya layanan skuter listrik di restonya tersebut, banyak pelanggan yang menggunakan GrabWheels. Bahkan, Sugiarti mengaku pernah kena omel pelanggan karena tarif GrabWheels yang digunakan anak salah seorang pelanggan sampai Rp 100 ribu.

“Pernah kena omel pelanggan, tagihan GrabWheels sampai Rp 100 rb. Itu karena anaknya lupa end trip, tapi jadinya saya edukasi, harus end trip, nggak boleh berdua, dan lain-lain,” ucap Sugianti.

Seharusnya, saat selesai menggunakan GrabWheels, pengguna harus terlebih dahulu memarkirkan skuter listrik di tempat khusus yang telah disediakan. Lalu pindai kode QR yang ada di tempat parkir dan tekan end trip di aplikasi. 

Sumber:https://food.detik.com/resto-dan-kafe/d-4838351/di-resto-ini-bisa-kulineran-sambil-jalan-jalan-pakai-skuter-listrik?_ga=2.201484691.360589604.1579159589-1685422183.1579159589

Pasar Kuliner yang Asyik di Yogyakarta

Berbagai Stand Kuliner di Pasar Kebon Empring

Banyak tempat kuliner menarik di Yogyakarta, salah satunya Pasar Kebon Empring. Di sini tak hanya dipenuhi makanan saja, namun tempatnya juga kekinian.

Terdapat wisata baru yang bernama Pasar Kebon Empring yang terletak di Jalan Wonosari, Piyungan, Bantul, Yogyakarta. Kawasan yang buka pada pertengahan 2018 lalu dan saat ini menjadi buruan traveler.

Wisata Pasar Kebon Empring ini menawarkan wisata kuliner di atas aliran kali Gawe. Wisata Pasar Kebon Empring buka dari jam 07.00 – 18.00 WIB.

Masyarakat Yogyakarta selalu mempunyai cara dalam megembangkan kreativitasnya. Salah satunya warga desa Bintaran Wetan, Srimulyo, Piyungan, Bantul dalam mengembangkan kawasan di daerahnya menjadi tempat buruan para wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta.

Kawasan wisata yang terletak di Jalan Wonosari, Piyungan, Bantul, Yogyakarta ini buka pada pertengahan 2018 lalu dan saat ini menjadi buruan traveler. Wisata Pasar Kebon Empring ini menawarkan wisata kuliner di atas aliran kali Gawe. Ketika anda memasuki kawasan ini, anda akan merasakan atmosfer dipedesaan pada jaman dahulu.

Hal yang menarik di wisata ini ialah, setiap hari Minggu seluruh pengelola dan penjual memakai pakaian adat khas Jawa dan pengunjung akan disuguhkan dengan live musik. Para pengunjung akan dimanjakan dengan pepohonan yang rimbun dan juga suara aliran kali Gawe yang gemricik, sehingga pengunjung betah berlama-lama.

Wisata Pasar Kebon Empring buka dari jam 07.00- 18.00 WIB. Pengunjung akan disuguhkan dengan berbagai macam kuliner, pemandangan yang indah, sejuk, dan harga yang murah. Setiap stand penjual makanan yang ada di Kebon Empring ini menyajikan makanan yang berbeda-beda. Kuliner yang tersedia disini mulai dari makanan ringan hingga makanan berat.

Pengunjung yang datang dari berbagai daerah di Yogyakarta maupun luar Yogyakarta. Aliran air yang bersih dan dangkal, anak-anak bebas untuk bermain air, tetapi harus dalam pengawasan orang tua.

Pengelola juga menyediakan permainan tradisional seperti ayunan, angklung, bakiak, enggrang dan lainnya. Adapun spot foto yang menarik seperti jembatan warna-warni, spot foto televisi kuno dan spot foto lainnya dari bambu.

Pasar Kebon Empring ini selain berada di tepian kali Gawe, juga memanfaatkan lahan pekarangan rumah belakang 11 warga Bintaran Wetan RT 04. Setiap bulannya mereka akan mendapatkan bagi hasil keuntungan dari sewa lahan tersebut oleh pengelola.

Sumber:https://travel.detik.com/dtravelers_stories/u-4858410/pasar-kuliner-yang-asyik-di-yogyakarta/2

RI Tampikan Budaya-Kuliner Tradisional di Konferensi Perubahan Iklim

Paviliun Indonesia di Konferensi Perubahan Iklim di Madrid (Mei Amelia/detikcom)
Paviliun Indonesia di Konferensi Perubahan Iklim di Madrid (Mei Amelia/detikcom)

Madrid – Delegasi RI menarik perhatian negara-negara lain dalam Konferensi Perubahan Iklim di Madrid, Spanyol. Paviliun Indonesia menjadi etalase RI dengan menampilkan budaya hingga kuliner tradisional Indonesia.

Lokasi paviliun Indonesia sendiri sangat strategis karena terletak di dekat pintu masuk. Keunikan paviliun Indonesia menjadi daya tarik tersendiri untuk menarik pengunjung.

Kepala Badan Litbang dan Inovasi sekaligus Ketua Paviliun Indonesia Agus Justianto menargetkan setidaknya 5.000 pengunjung yang akan datang ke paviliun Indonesia.

Di paviliun Indonesia sendiri akan ada 43 sesi talkshow. Sejumlah tokoh ternama (eminent person) akan hadir menjadi pembicara di paviliun Indonesia, salah satunya Al Gore.

“Kalau di sini dari pengalaman tahun lalu bisa menyedot, kan banyak orang lalu lalang, satu sesi saja bisa ini kan kapasitas 100 orang. Anggap aja 80 persen, 80 orang kali 43 itu yang ikut sesinya saja. Berarti hampir 3.000-an orang, bisa sampai 5.000 orang (pengunjung),” jelas Agus di Paviliun Indonesia, IFEMA de Madrid, Madrid, Spanyol, Senin (2/12/2019).

Aksen budaya ditonjolkan di Paviliun Indonesia ini, salah satunya bambu. Bambu menjadi salah satu komponen yang ingin diperlihatkan Indonesia dalam upaya pengelolaan ramah lingkungan.

“Kita mencari yang unik. Bambu itu, fungsinya kan luar biasa, dia ramah lingkungan dan mudah tumbuh di mana saja, itu bisa dimanfaatkan dengan baik oleh kita,” kata Agus.

China merupakan negara yang memanfaatkan teknologi dari bambu. Menurutnya, bambu bisa jadi jawaban atas perubahan iklim.

“Di China dia sudah bisa menjadi bahan laminating, partikel board yang kekuatannya hampir sama dengan kayu. Ke depan, bambu bisa menghadapi perubahan iklim,” katanya.

Kain batik juga menjadi ornamen yang mempercantik Paviliun Indonesia. Rumah adat yang ramah lingkungan juga menjadi backdrop di paviliun Indonesia.

Delegasi juga membawa kuliner Indonesia. Indonesia ingin menarik banyak pengunjung dengan menyajikan makanan tradisional dari berbagai daerah Nusantara.

“Nasi tumpeng itu akan opening kita pada tanggal 4 Desember. Kemudian nanti ada wajik, nagasari, singkong, keripik, macam-macam,” ujar Emilia Rosa selaku EO di paviliun Indonesia.

Sumber:https://news.detik.com/berita/d-4807085/ri-tampikan-budaya-kuliner-tradisional-di-konferensi-perubahan-iklim/2

Membangun Karakter Bangsa

Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)

Suatu hari, dalam perjalanan untuk suatu kegiatan perusahaan tempat saya bekerja, saya berkunjung ke sebuah kota kecil tak jauh dari Gunung Fuji, namanya Mishima. Ini sungguh kota kecil; kalau dibandingkan dengan kota di Indonesia tak lebih besar dari Cikarang. Tak ada fasilitas kota besar seperti mal. Supermarket saja pun sulit ditemukan.

Malam hari saya iseng berjalan kaki menelusuri jalan kota. Lalu saya perhatikan keadaan di kota kecil itu. Trotoar yang saya lewati sangat lebar, sekitar 4,5 meter. Tiga meter untuk jalur sepeda, 1,5 meter jalur pejalan kaki. Trotoar diberi pagar yang membatasinya dengan jalan. Juga diberi pemandu lampu merah kelap-kelip di bagian bawah.

Hampir semua jalan di Jepang dilengkapi dengan fasilitas buat pejalan kaki. Sebagian dipagari untuk memisahkannya dengan badan jalan, sebagian lain hanya ditandai dengan garis. Kelengkapan trotoarnya sangat baik, termasuk kelengkapan untuk orang tuna netra.

Jalan dibuat dengan lebar memadai. Di daerah pemukiman sempit sekalipun, paling kecil jalan berukuran cukup untuk satu mobil lewat. Standarnya, mobil pemadam kebakaran dan ambulans harus bisa menjangkau semua tempat dalam kota. Itu tentu saja masih ditambah lagi dengan bagian kecil untuk pejalan kaki.

Kenapa dibuat begitu? Karena begitulah seharusnya infrastruktur dibangun. Lengkap, sesuai standar. Kalau di negara kita, ada jalan saja sudah bagus. Jalannya minimalis saja. Pejalan kaki tidak diperhatikan. Boro-boro orang difabel. Dibuat trotoar, eh malah dipakai untuk jualan.

Di Jepang tanah sangat mahal, karena lahan serba sempit. Hanya sekitar 65% dari daratan Jepang yang bisa dihuni. Sisanya adalah lereng gunung terjal. Itu yang membuat harga tanah mahal. Tapi meski tanah mahal, pemerintah mau mengeluarkan biaya untuk bikin trotoar.

Menegakkan apa yang seharusnya, itu yang mereka anut. Rasanya pedih ketika menyadari bahwa pemerintah kita biasa asal bangun, asal ada. Mereka membangun jalan, tapi tidak menyediakan kebutuhan pemakai jalan dengan lengkap. Seakan membiarkan keselamatan pejalan kaki terancam.

Ah, tapi kan Jepang negara kaya, mereka punya anggaran untuk itu. Entahlah. Apakah ini soal adanya anggaran, atau soal kepedulian pada yang seharusnya? Dugaan saya, lebih pada soal kedua. Kita terlalu sering mengabaikan hal-hal penting dengan membuatnya jadi sepele.

Lalu soal anggaran. Jepang negara kaya, sehingga punya banyak uang untuk membangun banyak fasilitas. Saya terhenyak ketika menyadari satu hal. Kenapa mereka kaya? Jawabannya sangat sederhana: karena mereka bekerja. Mereka kerja keras dan cerdas.

Orang-orang Jepang dikenal sebagai pekerja keras. Tidak hanya keras, tapi juga cerdas. Dari kerja itu dihasilkan berbagai produk teknologi, yang mendominasi pasar dunia. Dari situlah mereka menghasilkan uang untuk membangun negara.

Kita kalau mau kaya tinggal bekerja seperti orang Jepang. Percayalah, mereka juga tidak sangat hebat. Dalam interaksi saya dengan orang Jepang selama 22 tahun ini, saya perhatikan bahwa mereka pekerja keras. Tapi saya bisa mengungguli kebanyakan dari mereka tanpa harus jadi workaholic. Saya bisa bekerja dengan lebih cerdas. Saya sering mengajari mereka soal visi, manajemen, dan sistem kerja.

Lalu di mana hebatnya? Kolektivitas. Orang Jepang bergerak bersama, bekerja bersama sesuai peran masing-masing. Engineer membangun dengan teknologi. Para buruh mengerjakan bagian mereka. Tukang bersih-bersih bekerja dengan penuh dedikasi. Semua orang bekerja dengan serius pada bidang mereka masing-masing. Ringkasnya, mereka berkarakter sama, yaitu pekerja keras, berdedikasi, tertib, disiplin, dan berintegritas. Tidak sekadar unggul secara individu.

Apa yang membuat karakter seperti itu tampak merata ada pada orang Jepang? Jawaban orang pada umumnya adalah, karena itu budaya mereka. Orang sering bicara soal budaya seakan budaya itu diturunkan, bawaan lahir. Mereka begitu karena mereka orang Jepang.

Padahal tidak demikian. Karakter itu bukan sesuatu yang dibawa orang sebagai bagian dari sifat biologisnya. Karakter itu dibentuk melalui tempaan dalam sistem sosial. Karakter itu dibentuk melalui pendidikan, dalam berbagai jalur. Mulai dari pendidikan keluarga, di sekolah, di tempat kerja, dan dalam interaksi bermasyarakat.

Sejak di rumah anak-anak sudah dididik untuk berdisiplin dan menjaga tata krama. Itu berlaku di seluruh keluarga. Di sekolah mereka juga dididik dengan prinsip yang sama. Tempat kerja mendorong orang untuk bekerja keras, kreatif, disiplin, dan berintegritas. Demikian pula di tengah masyarakat. Pelanggaran lalu lintas, misalnya, ditindak tanpa pandang bulu. Aparat penegak aturan menjadi contoh utama dalam penegakan disiplin.

Sebenarnya ini bukan hanya soal Jepang. Semua negara maju begitu. Negara maju bila seluruh sistem sosial, dari rumah tangga, sekolah, tempat kerja, dan interaksi sosial, bekerja bersama membangun suatu nilai bersama. Karakter kolektif bangsa dibentuk dengan cara itu.

Kita, kalau ingin maju, harus menciptakan dan menjaga sistem sosial seperti itu. Kita harus punya suatu sistem sosial yang terintegrasi, dengan tujuan yang sama, yaitu membangun suatu karakter. Untuk itu kita harus lebih dahulu mendefinisikan, bagaimana karakter bangsa yang hendak kita jaga.

Sayup-sayup saya masih ingat gambaran karakter bangsa yang diajarkan pada pelajaran PMP dulu. Kita adalah bangsa yang ramah dan santun, welas asih, peduli pada sesama, dan bergotong royong. Dalam konteks sekarang rasanya rumusan itu sangat kurang. Tidak ada ciri karakter kerja keras, kreatif, ulet, dan seterusnya.

Sejak dulu para tokoh bangsa sepertinya tidak tertarik untuk membangun karakter seperti itu. Mereka hanya kagum pada orang Jepang, tapi menganggap karakter seperti itu biarlah jadi karakter orang Jepang saja. Kita punya karakter sendiri yang berbeda. Kalau sekarang, karakter kita mungkin akan ditambah lagi dengan satu hal: taat beragama.

Ringkasnya, kita belum punya rumusan tentang karakter kita sebagai bangsa. Kalau pun ada, tidak mendukung atau mengarah kepada karakter orang moderen yang bekerja keras tadi. Itu yang membuat kita tertinggal.

Sekarang dalam sejumlah hal kita bahkan sudah tertinggal dari Vietnam. Kalau rumusan karakter ini tidak diubah, maka kita akan terus tertinggal. Bagaimana mengubahnya? Itu soal besarnya. Belum banyak orang yang peduli. Yang lebih dipedulikan orang sekarang adalah bagaimana membentuk generasi muda yang taat beragama dan rajin menghafal kitab suci.

Suber:https://news.detik.com/kolom/d-4824200/membangun-karakter-bangsa?_ga=2.135561267.360589604.1579159589-1685422183.1579159589

Di-Bully ‘Penakut’ Bareng Prabowo, Luhut Cerita Hampir Mati di Perang

Foto ilustrasi: Luhut Pandjaitan dan Prabowo Subianto (20detik)
Foto ilustrasi: Luhut Pandjaitan dan Prabowo Subianto (20detik)

 Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan merasa sedih karena dirinya dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menjadi sasaran perundungan (bully). Mereka di-bully sebagai penakut lantaran dinilai tak berani melawan pihak China yang masuk ke Perairan Natuna.

Luhut kemudian menuangkan curahan isi hatinya di Facebook. Lewat akun bercentang birunya, Luhut menyampaikan tulisan berjudul ‘Teori Clausewitz Tentang Perang’. Lewat teori itu, dia percaya bahwa perang adalah jalan terakhir dan diplomasi damai harus dikedepankan. Namun respons publik dinilainya tidak seperti yang diharapkan.

“Lebih menyedihkan lagi ketika saya dan Menhan RI Prabowo Subianto mengeluarkan pernyataan yang bernada menyejukkan, kami di-bully sebagai ‘penakut’,” kata Luhut, dikutip detikcom, Kamis (16/1/2020).

Dia juga keberatan dengan pemberitaan yang menyindir karier dan korpsnya. Sebagaimana diketahui, Luhut adalah Jenderal Purnawirawan TNI dan di masa lalau pernah berperang di Timor-Timur. Menurutnya, masa lalunya itu tak relevan bila dihubungkan dengan isu Natuna saat itu.

“Saya sedih karena serangan tersebut masuk wilayah pribadi, dan melenceng dari pokok permasalahan. Apakah mereka tahu bahwa saya sebagai seorang prajurit pernah berperang dan pernah hampir mati karena perang?” kata Luhut.

Dia menjelaskan berdasarkan teori Carl von Clausewitz dala buku ‘On War (Vom Kriege)’ setebal 700 halaman, bahwa perang adalah alternatif terakhir setelah jalur diplomasi menemui jalan buntu.

Teori dari Abad 19 itu dirasanya masih relevan diterapkan untuk kondisi saat ini, tak terkecuali untuk menyikapi perkembangan situasi di Perairan Natuna.

“Karena itulah saya termasuk yang sedih ketika ada situasi di Laut China Selatan, belum lama ini ada suara-suara yang mengusung kemungkinan pecah perang antara RI dengan Tiongkok, ‘demi kedalauatan NKRI’. Pemberitaan yang bermula dari informasi di media sosial tersebut kemudian menyulut kemarahan masyarakat karena ketidaklengkapan informasi itu atau ketidakfahaman mengenai beda antara ZEE dan laut teritori nasional. Yang muncul adalah kemarahan atau rasa ketersinggungan yang besar,” tutur Luhut.

Kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Pulau Natuna Besar dinyatakannya telah mengirim pesan yang kuat dan isyarat halus ke negara-negara lain. Kunjungan Jokowi adalah bentuk diplomasi canggih tanpa membuat pihak lain tersinggung. Dia optimis perang tak akan terjadi, baik di Natuna maupun Perang Dunia 3 akibat ketegangan Amerika Serikat (AS) versus Iran. Soal pihak-pihak yang ngotot ingin perang di Natuna, Luhut memaklumi sekaligus memberikan penyadaran.

Sumber:https://news.detik.com/berita/d-4861449/di-bully-penakut-bareng-prabowo-luhut-cerita-hampir-mati-di-perang/2

Raker Komisi III, Jaksa Agung Ungkap Progres Penanganan Kasus HAM

Foto: Rapat Kejaksaan Agung dan Komisi III DPR (Lamhot Aritonang/detikcom)
Foto: Rapat Kejaksaan Agung dan Komisi III DPR (Lamhot Aritonang/detikcom)

Jaksa Agung ST Burhanuddin mengungkapkan progres penanganan kasus dugaan pelanggaran HAM dalam rapat kerja (raker) dengan Komisi III DPR RI. Sejumlah kasus tersebut di antaranya peristiwa Jambo Keupok Aceh dan peristiwa Talangsari Lampung.

“Perkara pelanggaran HAM berat Jambo Keupok tahun 2013 belum dikembalikan oleh penyelidikan kepada penyidik,” kata Burhanuddin dalam raker di kompleks MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (16/1/2020).

Untuk kasus Talangsari, Burhanuddin mengatakan pelaku telah disidang di pengadilan umum. Namun, untuk terduga pelaku dugaan pelanggaran HAM berat, Burhanuddin menyebut belum diperiksa.

“Peristiwa dukun santet, ninja dan orang gila di Banyuwangi tahun 1998, tahun 1999; peristiwa Talangsari Lampung tahun 1989; dan peristiwa Wasior tahun 2001; dan Wamena tahun 2003, para pelaku telah disidangkan di pengadilan umum dan telah berkekuatan hukum tetap. Namun, untuk kasus HAM berat, penyelidik belum memeriksa dugaan pelakunya,” papar Burhanuddin.

Burhanuddin menuturkan, terdapat sejumlah kendala yang dihadapi dalam penanganan kasus dugaan pelanggaran HAM berat masa lalu. Salah satu kendalanya yakni belum ada pengadilan HAM ad hoc.

“Untuk peristiwa pelanggaran HAM berat masa lalu, sampai saat ini belum ada pengadilan HAM ad hoc. Sedangkan mekanisme dibentuknya, atas usul DPR RI berdasarkan peristiwa tertentu dengan keputusan presiden,” ujar Burhanuddin.

Berikut paparan Burhanuddin terkait progres penanganan kasus HAM:

A. Perkembangan penanganan perkara HAM

1. Terdapat berkas pelanggaran HAM berat masa lalu dan 2 HAM berat masa kini sudah dikembalikan kepada penyidik.
2. Perkara pelanggaran HAM berat Jambo Keupok tahun 2013 belum dikembalikan oleh penyelidik ke penyidik.
3. Perkara Pania tahun 2014 masih berupa SPDP.
4. Perkembangan perkara HAM berat lainnya:
– Peristiwa Semanggi I-II, telah ada hasil rapat paripurna DPR RI yang menyatakan bahwa peristiwa tersebut bukan merupakan pelanggaran HAM berat.
– Peristiwa dukun santet, ninja dan orang gila di Banyuwangi tahun 1998- 1999; peristiwa Talangsari Lampung tahun 1989; peristiwa Wasior tahun 2001; Wamena tahun 2003, para pelaku telah disidangkan di pengadilan umum dan telah berkekuatan hukum tetap. Namun untuk kasus HAM berat penyelidik belum memeriksa dugaan pelakunya.
– Peristiwa Talangsari Lampung tahun 1989 alat bukti dan barang bukti dugaan pelaku belum terungkap.

Sumber:https://news.detik.com/berita/d-4861463/raker-komisi-iii-jaksa-agung-ungkap-progres-penanganan-kasus-ham/2

Pendapatan Edar Film dari Platform Digital Salip Televisi

Netflix. Foto: detikINET/Irna Prihandini

 Platform digital kini berperan besar dalam memberikan tambahan pundi-pundi pendapatan bagi perusahaan film. Bagaimana tidak pendapatan edar film dari platform digital lebih disebut tinggi dari televisi.

Demikian diungkap Sheila Timothy, sineas dan perwakilan Asosiasi Produser Film Indonesia saat berbincang usai pengumuman kolaborasi Netflix dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, Kamis (9/1/2019).

Dijelaskannya pengembalian modal dari sebuah film berasal dari bioskop, penayangan di televisi free to air (FTA), air line dan platform digital. Sampai sekarang bioskop masih paling berkontribusi, besarannya mencapai 60-70%.

Hingga 2016, pembelian lisensi oleh stasiun televisi memberikan pemasukan terbesar kedua. Diikuti dengan platform digital dan penayangan di pesawat.

Semula jarak antara lisensi televisi dan platform digital itu terpaut jauh. Namun mulai 2017 kian menipis. Puncaknya pada 2019, platform digital berhasil menyalip.

“Kini platform digital penyumbang kedua terbesar setelah bioskop,” kata Sheila.

Peningkatan ini tidak terlepas makin luasnya distribusi. Selain itu didorong oleh makin banyaknya penyedia layanan dan kualitas broadband makin bagus.

“Pengguna makin banyak, income untuk untuk penyedia layanan makin banyak sehingga mereka bisa beli lebih tinggi lagi film-film,” kata Sheila.

Dia berharap hadirnya platform digital luar tidak dianggap musuh atau penjajah. Sebab mereka punya personality yang unik,

“Mereka mencari film-film lokal untuk menarik audience lokal. Justru kehadiran mereka memungkinkan kita untuk mengembangkan kultur. Makanya Netflix membuat original content per negara,” pungkas produser film Wiro Sableng ini.

sumber:https://inet.detik.com/cyberlife/d-4853192/pendapatan-edar-film-dari-platform-digital-salip-televisi?_ga=2.228286879.360589604.1579159589-1685422183.1579159589

7 Film Tentang Bencana Alam yang Bikin Deg-degan

Film Tentang Bencana Alam yang Bikin Deg-degan/Foto: IMDb
  • Film tentang bencana alam selalu menjadi pilihan yang menyenangkan. Bagaimana tidak, film dengan tema seru ini selalu berhasil mendorong adrenalin dan bikin deg-degan.

Ada berbagai film tentang bencana alam yang bisa kamu nikmati. Tak hanya dari Hollywood tetapi juga bagi pecinta film asal Korea Selatan. Apa saja?

Berikut film tentang bencana alam yang dirangkum detikHot:

2012

‘2012’ menceriakan film tentang kiamat. Ceritanya mengikuti ramalan suku Maya di mana tahun 2012 merupakan hari terakhir kehidupan di muka bumi.

The Wave

Film yang dirilis tahun 2015 dibuat berdasarkan kisah nyata di Norwegia. Film tentang bencana alam ini menceritakan perjuangan menyelamatkan diri dari terjangan air setinggi 250 kaki.

Twister

Dipadukan dengan cerita romansa, film tentang bencana alam ini juga sangat menegangkan. Bayangkan saja, diceritakan pasangan suami-istri melakukan pemburuan badai di tengah cuaca ekstrem.

The Hurricane Heist

Salam satu film tentang bencana alam 2018 adalah ‘The Hurricane Heist’. Film ini menceritakan sebuah aksi perampokan di tengah badai. Hmm bagaimana akhir ceritanya? Yuk ditonton.

The Day After Tomorrow

‘The Day After Tomorrow’ menjadi film tentang kiamat lainnya. Film ini juga menjadi refleksi dari dampak pemanasan global yang terjadi belakangan di dunia.

Exit

Butuh sisi komedi juga? Kamu bisa coba nonton film bencana alam Korea ini. FIlm berjudul ‘Exit’ ini menceritakan bencana alam di Korea berupa ledakan gas berbahaya yang menyebar cepat.

The Flu

Film tentang bencana alam terakhir adalah ‘The Flu’. Film ini menceritakan misi penyelamatan orang di daerah yang tengah dilanda wabah yang bisa menyebabkan kematian.

Sumber:https://m.detik.com/hot/movie/d-4853002/7-film-tentang-bencana-alam-yang-bikin-deg-degan?_ga=2.57284266.1071010351.1579149432-1470802183.1534700432

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai